What i Learn??
Sabtu, 03 November 2012
Otak Bayi Berkembang Saat Tidur
Tidur bagi bayi bukanlah kegiatan sia-sia! Tapi berpengaruh terhadap kesehatan, konsentrasi, emosi dan kecerdasannya.
Saat menggendong bayi, mengayun-ayunnya agar tertidur, Anda akan melihat secara perlahan kelopak matanya terututup, namun bergerak-gerak. Kaki dan tangannya kadang bergerak seperti terkejut. Sesekali ia menyunggingkan senyum. Sementara napasnya tidak teratur. Saat itulah bayi sedang memasuki tahap tidur aktif atau rapid eye movement (REM). Bayi menggunakan 50% persen tidurnya pada tahap ini, sedangkan orang dewasa 20%.
Otak berkembang. Dalam buku “Healthy Sleep Habits, Happy Child,” Marc Weissbluth menulis, tidur REM dapat membantu mengarahkan perkembangan otak bayi di awal kehidupan. Saat itu otak mengembangkan sinapsis, yaitu koneksi penting yang memungkinkan manusia belajar, bergerak, berpikir dan mengembangkan berbagai keterampilan baru.
Hormon pertumbuhan. Saat tidur kadar hormon pertumbuhan juga tinggi. Hormon pertumbuhan ini tugasnya adalah menstimulasi pertumbuhan tulang dan jaringan. Selain itu membantu memperbaiki dan memperbarui sel-sel kulit, sel darah dan sel saraf otak. “Kemampuan kognitif, mental, emosi dan konsentrasi juga dibangun saat tidur. Itu sebabnya tidur yang berkualitas sangat dibutuhkan.
Siklus tidur. Di awal kelahiran hingga usia 1 bulan 80% kegiatan bayi adalah tidur, sekitar 16 – 22 jam. Siklus tidur bayi lebih pendek dibanding orang dewasa, meski waktu tidurnya lebih panjang. Ini bisa dilihat dari seringnya ia terbangun, tidur, dan bangun lagi, tak terkecuali di malam hari, yang membuat Bunda dan Ayah baru harus pandai-pandai mengatur jadwal tidur.
Pola tidur. Bayi yang sehat umumnya tidak akan mengalami kesulitan tidur. Hanya saja pola tidur setiap bayi berbeda. Ada bayi yang mudah tidur pulas dan mudah bangun dan ada yang sulit terlelap dan mudah bangun. Biasanya bayi akan terbangun jika lapar, popok kotor, kepanasan dan terlalu berisik. Maka penting bagi Anda untuk membuat kamar dengan suasana tenang, lampu redup, suhu tidak terlalu dingin dan panas dan tidak membuat suara-suara yang mengganggu tidurnya.
Kekurangan tidur pada bayi akan mengganggu pertumbuhan hormonnya. Sistem kekebalan tubuhnya akan menurun karena sel darah putihnya menurun. Keadaan ini akan membuatnya rewel dan mudah menangis. Anda sebagai orangtua tentu akan tidak nyaman dengan keadaan ini dan menjadi kurang tidur pula.
Sumber : http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Bayi/Gizi+dan+Kesehatan/otak.bayi.berkembang.saat.tidur/001/001/2296/2
Kamis, 18 Oktober 2012
Suara Grok-Grok pada bayi baru lahir
Si kecil kerap mengeluarkan suara grok-grok. Patutkah dikhawatirkan?
Bagian dalam tubuh manusia, asal tahu saja, selalu berlendir. Jadi memang sudah dirancang untuk terus memproduksi lendir yang berfungsi membersihkan saluran pernapasan dan menangkal infeksi kuman ataupun virus dari dalam tubuh. Nah, tubuh bayi pun memproduksi lendir. Hanya saja karena refleksnya untuk mengeluarkan lendir belum baik, akibatnya jumlah lender ”menumpuk”. Ini wajar saja selama lendir tersebut tidak sampai mengganggu aktivitas bayi (seperti makan-minumnya tetap baik, tidurnya pun bisa nyenyak), tidak muntah, dan tak ada demam. Kalau begini, tak ada yang perlu dikhawatirkan.
Namun, beri perhatian jika suara grok-grok yang timbul terdengar begitu nyaring (terlebih saat bayi menangis). Bayi pun tampak sulit tidur dan aktivitasnya kerap terganggu (sulit makan dan minum, sering muntah, dan berat badan susah naik). Apalagi bila disertai hidung meler dan tersumbat, bersin-bersin, dan suhu tubuh meninggi. Ini biasanya disebabkan infeksi virus.
Yang perlu diketahui, pada bayi normal bunyi grok (karena adanya lendir di saluran pernapasan) akan menghilang di saat usianya menginjak satu tahun. Nah, jika di usia itu si kecil masih mengeluarkan suara grok-grok berarti ia berpotensi sebagai pengidap asma di kemudian hari. Tanda-tanda lainnya, bayi kerap mengalami keluhan pada kulit, seperti dermatitis atopik atau eksim
PENYEBAB LENDIR BERLEBIH
Yang jelas, bukan karena tenaga medis yang kurang tuntas membersihkan lendir di mulut bayi baru lahir. Berlebihnya lendir bisa karena faktor-faktor di bawah ini:
Alergi yang diderita bayi (bisa dipicu udara, asap, makanan, minuman dan lainnya). Jika pencetus alergi bisa diketahui, lalu bayi dijauhkan dari faktor pencetusnya itu, biasanya jumlah lendir dalam tubuh akan berangsur-angsur berkurang dengan sendirinya. Berat badan akan kembali naik, nafsu makan-minum kembali normal, tidurnya menjadi pulas, aktivitasnya juga kembali lincah.
Infeksi virus bisa diatasi dengan memperkuat sistem imunitas bayi. Caranya beri bayi banyak ASI dan banyak istirahat. Bagi bayi di atas 6 bulan yang sudah melewati ASI eksklusif, bisa diberikan cairan lain, seperti air putih, jus dan sup. Selebihnya biarkan lendir yang bertugas membawa virus dan kotoran keluar.
TIDURKAN TENGKURAP
Berlebihnya lendir dapat membuat napas bayi terganggu dan membuatnya merasa tidak nyaman.
Berikut yang dapat orangtua lakukan:
Mencari tahu dan menjauhkan pencetusnya.
Berikan stimulasi untuk membantu bayi mengeluarkan lendir, caranya:
Saat tidur posisikan kepala bayi lebih tinggi dari badan.
Posisi tidur tengkurap juga baik karena posisi saluran napas jadi lebih rendah hingga lendir pun akan turun ke arah mulut.
Suhu dalam ruangan bayi harus hangat.
Jika bayi tidak alergi bisa diberikan penghangat tambahan seperti minyak telon atau balsem khusus bayi, yang dibalurkan di dada, leher, dan punggungnya.
Baik jika setiap pagi bayi dijemur di bawah sinar matahari pukul 07.00-08.00, selama 10 menit. Letakkan bayi dalam posisi tengkurap lalu tepuk-tepuk punggungnya. Posisikan bayi miring ke kanan lalu ke kiri dan tepuk-tepuk dada sampingnya. Dengan cara ini biasanya dia akan ”muntah”, bisa juga lendir luluh lalu masuk saluran pencernaan dan terbuang lewat kotoran. Tapi ingat, lakukan cara ini sebelum bayi minum-makan apa pun.
Kalau hidung si kecil tersumbat karena kentalnya lendir, berikan tetes hidung garam fisiologis atau NaCL (yang bisa dibeli di apotek-apotek). Jika tidak mempan, bayi bisa dibawa ke klinik fisioterapi untuk menjalani terapi inhalasi. Terapi ini baik meluluhkan lendir sehingga dapat dengan mudah dikeluarkan oleh tubuh dengan cara dibatukkan, dibersinkan atau lewat feses.
Penanganan sama untuk berlebihnya lendir yang disebabkan infeksi virus. Namun kondisi ini perlu diperiksakan ke dokter untuk memastikan infeksi apa yang menyerang si kecil.
MALAM HARI SALURAN NAPAS MENGECIL
Bayi terkadang mengalami sulit bernapas di malam hari atau di pagi hari. Perlu diketahui, saluran pernapasan manusia pada malam hari akan mengecil. Hanya derajat mengecilnya berbeda-beda. Pada orang-orang yang tidak alergi, diameter mengecilnya saluran pernapasan tidak sampai 10%. Sedangkan yang alergi lebih dari itu. Namun tak perlu panik, karena akan reda dengan sendirinya seiring menghangatnya suhu lingkungan.
Narasumber: dr. Bambang Supriyatno, SpA(K), dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo, Jakarta
sumber: http://dokteranakku.net/articles/2011/09/si-kecil-kerap-mengeluarkan-suara-grok-grok-patutkah-dikhawatirkan.html
http://www.ayahasi.org/2012/04/si-kecil-kerap-mengeluarkan-suara-grok.html
Rabu, 05 September 2012
Bersamamu dalam Naungan Ilmu (Di Atas Sunnah Kita Menikah)
Membangun kehidupan rumah tangga yang harmonis memang menjadi dambaan. Namun tentu saja untuk mencapainya bukan persoalan mudah. Butuh kesiapan dalam banyak hal terutama dari sisi ilmu agama. Sesuatu yang mesti dipunyai seorang istri, terlebih sang suami.
Tidak salah jika ada yang mengatakan bahwa menikah berarti menjalani hidup baru. Karena dalam kehidupan pasca pernikahan memang dijumpai banyak hal yang sebelumnya tidak didapatkan saat melajang. Tentunya semua itu bisa dirasakan oleh mereka yang telah membangun mahligai rumah tangga.
Pernikahan juga merupakan kehidupan orang dewasa. Sebab, banyak hal yang harus dihadapi dan diselesaikan dengan pikiran orang yang dewasa, bukan dengan pikiran kanak-kanak. Masalah hubungan suami istri, pendidikan anak, ekonomi keluarga, hubungan kemasyarakatan, dan lain sebagainya, mau tidak mau akan hadir dalam kehidupan mereka yang telah berkeluarga.
Maka, tidak salah pula bila dikatakan untuk menikah itu butuh ilmu syar‘i, baik pihak istri, terlebih lagi pihak suami sebagai qawwam (pemimpin) bagi keluarganya. Karena dengan ilmu yang disertai amalan, akan tegak segala urusan dan akan lurus jalan kehidupan. Namun sangat disayangkan, sisi yang satu ini sering luput dari persiapan dan sering terabaikan, baik sebelum pernikahan terlebih lagi pasca pernikahan.
Pendidikan Keluarga
Allah Ta’ala berfirman:
“Kaum laki-laki (suami) adalah qawwam1 bagi kaum wanita (istri).” (An-Nisaa’: 34)
Salah satu tugas suami sebagai qawwam adalah memberikan pendidikan agama kepada istri dan anak-anaknya, meluruskan mereka dari penyimpangan, dan mengenalkan mereka kepada kebenaran. Karena Allah Ta’alatelah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (At-Tahrim: 6)
Menjaga keluarga yang dimaksud dalam butiran ayat yang mulia ini adalah dengan cara mendidik, mengajari, memerintahkan mereka, dan membantu mereka untuk bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla, serta melarang mereka dari bermaksiat kepada-Nya. Seorang suami wajib mengajari keluarganya tentang perkara yang di-fardhu-kan oleh Allah Ta’ala. Bila ia mendapati mereka berbuat maksiat segera dinasehati dan diperingatkan. (Tafsir Ath-Thabari, 28/166, Ruhul Ma‘ani, 28/156)
Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa`di Rahimahullahu ta’ala berkata: “Menjaga jiwa dari api neraka bisa dilakukan dengan mengharuskan jiwa tersebut untuk berpegang dengan perintah Allah, melaksanakan apa yang diperintahkan, menjauhi apa yang dilarang, dan bertaubat dari perkara yang mendatangkan murka dan adzab-Nya. Di samping itu, menjaga istri dan anak-anak dilakukan dengan cara mendidik dan mengajari mereka, serta memaksa mereka untuk taat kepada perintah Allah. Seorang hamba tidak akan selamat kecuali bila ia menegakkan perkara Allah pada dirinya dan pada orang-orang yang berada di bawah perwaliannya seperti istri, anak-anak, dan selain mereka.” (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 874)
Ayat ini menunjukkan wajibnya suami mengajari anak-anak dan istri tentang perkara agama dan kebaikan serta adab yang dibutuhkan. Hal ini semisal dengan firman Allah Ta’alakepada Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Perintahkanlah keluargamu untuk melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam menegakkannya.” (Thaha: 132)
“Berilah peringatan kepada karib kerabatmu yang terdekat.” (Asy-Syu`ara: 214)
Ini menunjukkan keluarga yang paling dekat dengan kita memiliki kelebihan dibanding yang lain dalam hal memperoleh pengajaran dan pengarahan untuk taat kepada Allah Ta’ala. (Ahkamul Qur’an, 3/697)
Malik Ibnul Huwairits Radhiyallahu ta’ala ‘anhu mengabarkan: “Kami mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan ketika itu kami adalah anak-anak muda yang sebaya. Lalu kami tinggal bersama beliau di kota Madinah selama sepuluh malam. Kami mendapati beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang yang penyayang lagi lembut. Saat sepuluh malam hampir berlalu, beliau menduga kami telah merindukan keluarga kami karena sekian lama berpisah dengan mereka. Beliau pun bertanya tentang keluarga kami, maka cerita tentang mereka pun meluncur dari lisan kami. Setelahnya beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Kembalilah kalian kepada keluarga kalian, tinggallah di tengah mereka dan ajari mereka, serta perintahkanlah mereka.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 628 dan Muslim no. 674)
Dalam hadits di atas, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepada shahabatnya untuk memberikan taklim (pengajaran) kepada keluarga dan menyampaikan kepada mereka ilmu yang didapatkan saat bermajelis dengan seorang ‘alim.
Dengan penjelasan yang telah lewat, dapat dipahami bahwa seorang suami/ kepala rumah tangga harus memiliki ilmu yang cukup untuk mendidik anak istrinya, mengarahkan mereka kepada kebenaran, dan menjauhkan mereka dari penyimpangan.
Namun sangat disayangkan, kenyataan yang kita lihat banyak kepala keluarga yang melalaikan hal ini. Yang ada di benak mereka hanyalah bagaimana mencukupi kebutuhan materi keluarganya sehingga mereka tenggelam dalam perlombaan mengejar dunia, sementara kebutuhan spiritual tidak masuk dalam hitungan. Anak dan istri mereka hanya dijejali dengan harta dunia, bersenang-senang dengannya, namun bersamaan dengan itu mereka tidak mengerti tentang agama.
Paling tidak, bila seorang suami tidak bisa mengajari keluarganya, mungkin karena kesibukannya atau keterbatasan ilmunya, ia mencarikan pengajar agama untuk anak istrinya, atau mengajak istrinya ke majelis taklim, menyediakan buku-buku agama, kaset-kaset ceramah/ taklim sesuai dengan kemampuannya, dan menganjurkan keluarganya untuk membaca/ mendengarnya.
Mendidik Istri
Memasuki masa-masa awal pernikahan, semestinya seorang suami telah merencanakan pendidikan agama bagi istrinya. Minimalnya ia mempunyai pandangan ke arah sana. Dan sebelum menjadi seorang ayah, semestinya ia telah menyiapkan istrinya untuk menjadi pendidik anak-anaknya kelak karena:
“Ibu adalah madrasah (sekolah) bagi anak-anaknya”, kata penyair Arab.
Perlu juga diperhatikan, bahwa mendapatkan pengajaran agama termasuk salah satu hak istri yang seharusnya ditunaikan oleh suami dan termasuk hak seorang wanita yang harus ditunaikan walinya. Namun pada prakteknya, hak ini seringkali tidak terpenuhi sebagaimana mestinya. Sehingga tepat sekali ucapan Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi‘i Rahimahullahu ta’ala yang membagi manusia menjadi tiga macam dalam mengurusi wanita:
Pertama: Mereka yang melepaskan wanita begitu saja sekehendaknya, membiarkannya bepergian jauh tanpa mahram, bercampur baur di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi, di tempat kerja seperti kantor dan di rumah sakit. Sehingga mengakibatkan rusaknya keadaan kaum muslimin.
Kedua: Mereka yang menyia-nyiakan wanita tanpa taklim, membiarkannya seperti binatang ternak, sehingga ia tidak tahu sedikit pun kewajiban yang Allah bebankan padanya. Wanita seperti ini akan menjatuhkan dirinya kepada fitnah dan penyelisihan terhadap perintah-perintah Allah Azza wa Jalla, bahkan akan merusak keluarganya.
Ketiga: Mereka yang memberikan pengajaran agama kepada wanita sesuai dengan kandungan Al Qur’an dan As Sunnah, karena melaksanakan perintah Allah :
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (At- Tahrim: 6)
Dan karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya/ dimintai tanggung jawab tentang apa yang dipimpinnya.”2 (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 893 dan Muslim no. 1829)
(Nashihati lin Nisa’, Ummu ‘Abdillah Al-Wadi`iyyah, hal. 7-8)
Seorang istri perlu diajari tentang perkara yang dibutuhkannya dalam kehidupan sehari-hari, siang dan malamnya, tentang tauhid, bahaya syirik, maksiat dan penyakit-penyakit hati berikut pengobatannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri menyediakan waktu khusus untuk mengajari para wanita. Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ta’ala ‘anhu berkata: “Datang seorang wanita kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu ia berkata:
“’Wahai Rasulullah! Kaum laki-laki telah pergi membawa haditsmu, maka berikanlah untuk kami satu hari yang khusus di mana kami dapat mendatangimu untuk belajar kepadamu dari ilmu yang Allah telah ajarkan padamu.’ Beliau pun bersabda: ‘Berkumpullah kalian pada hari ini dan itu di tempat ini (yakni beliau menyebutkan waktu dan tempat tertentu)’. Hingga mereka pun berkumpul pada hari dan tempat yang dijanjikan untuk mengambil ilmu dari beliau sesuai dengan apa yang diajarkan Allah kepada beliau.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 101 dan Muslim no. 2633)
Bahkan istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam “lahir” dari madrasah nubuwwah dan mereka menuai bekal ilmu yang banyak terutama Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu ‘anha yang besar dalam asuhan madrasah yang mulia ini. Sepeninggal suami mereka, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka menjadi pendidik umat bersama dengan para shahabat yang lain, semoga Allah meridhai mereka.
Gambaran Pengajaran Seorang ‘Alim terhadap Keluarga Mereka
Para pendahulu kita yang shalih (salafunash shalih) sangat mementingkan pendidikan agama bagi keluarga mereka. Di samping mereka berdakwah kepada umat di luar rumah, mereka juga tidak melupakan orang-orang yang berada dalam rumah mereka (keluarga). Tidak seperti kebanyakan manusia pada hari ini yang sibuk dengan urusan mereka di luar rumah sehingga melalaikan pendidikan istrinya.
Bahkan sangat disayangkan hal ini juga menimpa keluarga da‘i. Ia sibuk berdakwah kepada masyarakatnya sementara istrinya di rumah tidak mengerti tata cara shalat yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak tahu cara menghilangkan najis, dan sebagainya. Yang lebih parah, istri atau anaknya tidak mengerti tentang tauhid dan syirik3. Bandingkan dengan apa yang ada pada salaf!
Lihatlah keluarga Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Rahimahullahu ta’ala. Beliau demikian bersemangat menyebarkan ilmu di tengah keluarganya dan kerabatnya sebagaimana semangatnya menyampaikan ilmu kepada orang lain. Kesibukan beliau dalam dakwah di luar rumah dan dalam menulis ilmu tidaklah melalaikan beliau untuk memberi taklim kepada keluarganya. Dari hasil pendidikan ini lahirlah dari keluarga beliau orang-orang yang terkenal dalam ilmu khususnya ilmu hadits, seperti: saudara perempuannya Sittir Rakb bintu ‘Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Hajar Al-’Asqalani, istrinya Uns bintu Al-Qadhi Karimuddin Abdul Karim bin ‘Abdil ‘Aziz, putrinya Zain Khatun, Farhah, Fathimah, ‘Aliyah, dan Rabi`ah. (Inayatun Nisa bil Haditsin Nabawi, hal. 126-127)
Lihat pula bagaimana Sa’id Ibnul Musayyab membesarkan dan mengasuh putrinya dalam buaian ilmu hingga ketika menikah suaminya mengatakan ia mendapati istrinya adalah orang yang paling hapal dengan kitabullah, paling mengilmuinya, dan paling tahu tentang hak suami. (Al-Hilyah, 2/167-168, As-Siyar, 4/233-234)
Demikian pula kisah keilmuan putri Al-Imam Malik Rahimahullahu ta’ala. Dengan bimbingan ayahnya, ia dapat menghapal Al-Muwaththa’ karya sang Imam. Bila ada murid Al-Imam Malik membacakan Al-Muwaththa’ di hadapan beliau, putrinya berdiri di belakang pintu mendengarkan bacaan tersebut. Hingga ketika ada kekeliruan dalam bacaan ia memberi isyarat kepada ayahnya dengan mengetuk pintu. Maka ayahnya (Al-Imam Malik) pun berkata kepada si pembaca: “Ulangi bacaanmu karena ada kekeliruan”. (Inayatun Nisa’, hal. 121)
Perhatian pendahulu kita rahimahumullah terhadap pendidikan keluarganya ternyata juga kita dapatkan dari ulama yang hidup di zaman kita ini, seperti Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi‘i Rahimahullahu Ta’ala. Dalam sehari beliau menyempatkan waktu untuk mengajari anak istrinya tentang perkara-perkara agama yang mereka butuhkan, hingga mereka mapan dalam ilmu dan dapat memberi faedah kepada saudara mereka sesama muslimah dalam majelis yang mereka adakan atau dari karya tulis yang mereka hasilkan. Demikian kisah ulama kita dengan keluarganya, lalu di mana tempat kita bila dibanding dengan mereka ?
Wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab.
Penulis : Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah
Sumber :http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=131
Like
Be the first to like this.
About sesungguhnya pacaran dan musik itu haram hukumnya ( www.jauhilahmusik.wordpress.com , www.pacaranituharam.wordpress.com )
pops_intansay@yahoo.co.id
View all posts by sesungguhnya pacaran dan musik itu haram hukumnya ( www.jauhilahmusik.wordpress.com , www.pacaranituharam.wordpress.com ) →
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.
← Tips Memilih Pasangan IdamanCARA BERTAUBAT DARI PERBUATAN ZINA →
Leave a Reply
Email (required) (Address never made public)
Name (required)
Website
Tidak salah jika ada yang mengatakan bahwa menikah berarti menjalani hidup baru. Karena dalam kehidupan pasca pernikahan memang dijumpai banyak hal yang sebelumnya tidak didapatkan saat melajang. Tentunya semua itu bisa dirasakan oleh mereka yang telah membangun mahligai rumah tangga.
Pernikahan juga merupakan kehidupan orang dewasa. Sebab, banyak hal yang harus dihadapi dan diselesaikan dengan pikiran orang yang dewasa, bukan dengan pikiran kanak-kanak. Masalah hubungan suami istri, pendidikan anak, ekonomi keluarga, hubungan kemasyarakatan, dan lain sebagainya, mau tidak mau akan hadir dalam kehidupan mereka yang telah berkeluarga.
Maka, tidak salah pula bila dikatakan untuk menikah itu butuh ilmu syar‘i, baik pihak istri, terlebih lagi pihak suami sebagai qawwam (pemimpin) bagi keluarganya. Karena dengan ilmu yang disertai amalan, akan tegak segala urusan dan akan lurus jalan kehidupan. Namun sangat disayangkan, sisi yang satu ini sering luput dari persiapan dan sering terabaikan, baik sebelum pernikahan terlebih lagi pasca pernikahan.
Pendidikan Keluarga
Allah Ta’ala berfirman:
“Kaum laki-laki (suami) adalah qawwam1 bagi kaum wanita (istri).” (An-Nisaa’: 34)
Salah satu tugas suami sebagai qawwam adalah memberikan pendidikan agama kepada istri dan anak-anaknya, meluruskan mereka dari penyimpangan, dan mengenalkan mereka kepada kebenaran. Karena Allah Ta’alatelah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (At-Tahrim: 6)
Menjaga keluarga yang dimaksud dalam butiran ayat yang mulia ini adalah dengan cara mendidik, mengajari, memerintahkan mereka, dan membantu mereka untuk bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla, serta melarang mereka dari bermaksiat kepada-Nya. Seorang suami wajib mengajari keluarganya tentang perkara yang di-fardhu-kan oleh Allah Ta’ala. Bila ia mendapati mereka berbuat maksiat segera dinasehati dan diperingatkan. (Tafsir Ath-Thabari, 28/166, Ruhul Ma‘ani, 28/156)
Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa`di Rahimahullahu ta’ala berkata: “Menjaga jiwa dari api neraka bisa dilakukan dengan mengharuskan jiwa tersebut untuk berpegang dengan perintah Allah, melaksanakan apa yang diperintahkan, menjauhi apa yang dilarang, dan bertaubat dari perkara yang mendatangkan murka dan adzab-Nya. Di samping itu, menjaga istri dan anak-anak dilakukan dengan cara mendidik dan mengajari mereka, serta memaksa mereka untuk taat kepada perintah Allah. Seorang hamba tidak akan selamat kecuali bila ia menegakkan perkara Allah pada dirinya dan pada orang-orang yang berada di bawah perwaliannya seperti istri, anak-anak, dan selain mereka.” (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 874)
Ayat ini menunjukkan wajibnya suami mengajari anak-anak dan istri tentang perkara agama dan kebaikan serta adab yang dibutuhkan. Hal ini semisal dengan firman Allah Ta’alakepada Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Perintahkanlah keluargamu untuk melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam menegakkannya.” (Thaha: 132)
“Berilah peringatan kepada karib kerabatmu yang terdekat.” (Asy-Syu`ara: 214)
Ini menunjukkan keluarga yang paling dekat dengan kita memiliki kelebihan dibanding yang lain dalam hal memperoleh pengajaran dan pengarahan untuk taat kepada Allah Ta’ala. (Ahkamul Qur’an, 3/697)
Malik Ibnul Huwairits Radhiyallahu ta’ala ‘anhu mengabarkan: “Kami mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan ketika itu kami adalah anak-anak muda yang sebaya. Lalu kami tinggal bersama beliau di kota Madinah selama sepuluh malam. Kami mendapati beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang yang penyayang lagi lembut. Saat sepuluh malam hampir berlalu, beliau menduga kami telah merindukan keluarga kami karena sekian lama berpisah dengan mereka. Beliau pun bertanya tentang keluarga kami, maka cerita tentang mereka pun meluncur dari lisan kami. Setelahnya beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Kembalilah kalian kepada keluarga kalian, tinggallah di tengah mereka dan ajari mereka, serta perintahkanlah mereka.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 628 dan Muslim no. 674)
Dalam hadits di atas, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepada shahabatnya untuk memberikan taklim (pengajaran) kepada keluarga dan menyampaikan kepada mereka ilmu yang didapatkan saat bermajelis dengan seorang ‘alim.
Dengan penjelasan yang telah lewat, dapat dipahami bahwa seorang suami/ kepala rumah tangga harus memiliki ilmu yang cukup untuk mendidik anak istrinya, mengarahkan mereka kepada kebenaran, dan menjauhkan mereka dari penyimpangan.
Namun sangat disayangkan, kenyataan yang kita lihat banyak kepala keluarga yang melalaikan hal ini. Yang ada di benak mereka hanyalah bagaimana mencukupi kebutuhan materi keluarganya sehingga mereka tenggelam dalam perlombaan mengejar dunia, sementara kebutuhan spiritual tidak masuk dalam hitungan. Anak dan istri mereka hanya dijejali dengan harta dunia, bersenang-senang dengannya, namun bersamaan dengan itu mereka tidak mengerti tentang agama.
Paling tidak, bila seorang suami tidak bisa mengajari keluarganya, mungkin karena kesibukannya atau keterbatasan ilmunya, ia mencarikan pengajar agama untuk anak istrinya, atau mengajak istrinya ke majelis taklim, menyediakan buku-buku agama, kaset-kaset ceramah/ taklim sesuai dengan kemampuannya, dan menganjurkan keluarganya untuk membaca/ mendengarnya.
Mendidik Istri
Memasuki masa-masa awal pernikahan, semestinya seorang suami telah merencanakan pendidikan agama bagi istrinya. Minimalnya ia mempunyai pandangan ke arah sana. Dan sebelum menjadi seorang ayah, semestinya ia telah menyiapkan istrinya untuk menjadi pendidik anak-anaknya kelak karena:
“Ibu adalah madrasah (sekolah) bagi anak-anaknya”, kata penyair Arab.
Perlu juga diperhatikan, bahwa mendapatkan pengajaran agama termasuk salah satu hak istri yang seharusnya ditunaikan oleh suami dan termasuk hak seorang wanita yang harus ditunaikan walinya. Namun pada prakteknya, hak ini seringkali tidak terpenuhi sebagaimana mestinya. Sehingga tepat sekali ucapan Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi‘i Rahimahullahu ta’ala yang membagi manusia menjadi tiga macam dalam mengurusi wanita:
Pertama: Mereka yang melepaskan wanita begitu saja sekehendaknya, membiarkannya bepergian jauh tanpa mahram, bercampur baur di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi, di tempat kerja seperti kantor dan di rumah sakit. Sehingga mengakibatkan rusaknya keadaan kaum muslimin.
Kedua: Mereka yang menyia-nyiakan wanita tanpa taklim, membiarkannya seperti binatang ternak, sehingga ia tidak tahu sedikit pun kewajiban yang Allah bebankan padanya. Wanita seperti ini akan menjatuhkan dirinya kepada fitnah dan penyelisihan terhadap perintah-perintah Allah Azza wa Jalla, bahkan akan merusak keluarganya.
Ketiga: Mereka yang memberikan pengajaran agama kepada wanita sesuai dengan kandungan Al Qur’an dan As Sunnah, karena melaksanakan perintah Allah :
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (At- Tahrim: 6)
Dan karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya/ dimintai tanggung jawab tentang apa yang dipimpinnya.”2 (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 893 dan Muslim no. 1829)
(Nashihati lin Nisa’, Ummu ‘Abdillah Al-Wadi`iyyah, hal. 7-8)
Seorang istri perlu diajari tentang perkara yang dibutuhkannya dalam kehidupan sehari-hari, siang dan malamnya, tentang tauhid, bahaya syirik, maksiat dan penyakit-penyakit hati berikut pengobatannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri menyediakan waktu khusus untuk mengajari para wanita. Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ta’ala ‘anhu berkata: “Datang seorang wanita kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu ia berkata:
“’Wahai Rasulullah! Kaum laki-laki telah pergi membawa haditsmu, maka berikanlah untuk kami satu hari yang khusus di mana kami dapat mendatangimu untuk belajar kepadamu dari ilmu yang Allah telah ajarkan padamu.’ Beliau pun bersabda: ‘Berkumpullah kalian pada hari ini dan itu di tempat ini (yakni beliau menyebutkan waktu dan tempat tertentu)’. Hingga mereka pun berkumpul pada hari dan tempat yang dijanjikan untuk mengambil ilmu dari beliau sesuai dengan apa yang diajarkan Allah kepada beliau.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 101 dan Muslim no. 2633)
Bahkan istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam “lahir” dari madrasah nubuwwah dan mereka menuai bekal ilmu yang banyak terutama Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu ‘anha yang besar dalam asuhan madrasah yang mulia ini. Sepeninggal suami mereka, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka menjadi pendidik umat bersama dengan para shahabat yang lain, semoga Allah meridhai mereka.
Gambaran Pengajaran Seorang ‘Alim terhadap Keluarga Mereka
Para pendahulu kita yang shalih (salafunash shalih) sangat mementingkan pendidikan agama bagi keluarga mereka. Di samping mereka berdakwah kepada umat di luar rumah, mereka juga tidak melupakan orang-orang yang berada dalam rumah mereka (keluarga). Tidak seperti kebanyakan manusia pada hari ini yang sibuk dengan urusan mereka di luar rumah sehingga melalaikan pendidikan istrinya.
Bahkan sangat disayangkan hal ini juga menimpa keluarga da‘i. Ia sibuk berdakwah kepada masyarakatnya sementara istrinya di rumah tidak mengerti tata cara shalat yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak tahu cara menghilangkan najis, dan sebagainya. Yang lebih parah, istri atau anaknya tidak mengerti tentang tauhid dan syirik3. Bandingkan dengan apa yang ada pada salaf!
Lihatlah keluarga Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Rahimahullahu ta’ala. Beliau demikian bersemangat menyebarkan ilmu di tengah keluarganya dan kerabatnya sebagaimana semangatnya menyampaikan ilmu kepada orang lain. Kesibukan beliau dalam dakwah di luar rumah dan dalam menulis ilmu tidaklah melalaikan beliau untuk memberi taklim kepada keluarganya. Dari hasil pendidikan ini lahirlah dari keluarga beliau orang-orang yang terkenal dalam ilmu khususnya ilmu hadits, seperti: saudara perempuannya Sittir Rakb bintu ‘Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Hajar Al-’Asqalani, istrinya Uns bintu Al-Qadhi Karimuddin Abdul Karim bin ‘Abdil ‘Aziz, putrinya Zain Khatun, Farhah, Fathimah, ‘Aliyah, dan Rabi`ah. (Inayatun Nisa bil Haditsin Nabawi, hal. 126-127)
Lihat pula bagaimana Sa’id Ibnul Musayyab membesarkan dan mengasuh putrinya dalam buaian ilmu hingga ketika menikah suaminya mengatakan ia mendapati istrinya adalah orang yang paling hapal dengan kitabullah, paling mengilmuinya, dan paling tahu tentang hak suami. (Al-Hilyah, 2/167-168, As-Siyar, 4/233-234)
Demikian pula kisah keilmuan putri Al-Imam Malik Rahimahullahu ta’ala. Dengan bimbingan ayahnya, ia dapat menghapal Al-Muwaththa’ karya sang Imam. Bila ada murid Al-Imam Malik membacakan Al-Muwaththa’ di hadapan beliau, putrinya berdiri di belakang pintu mendengarkan bacaan tersebut. Hingga ketika ada kekeliruan dalam bacaan ia memberi isyarat kepada ayahnya dengan mengetuk pintu. Maka ayahnya (Al-Imam Malik) pun berkata kepada si pembaca: “Ulangi bacaanmu karena ada kekeliruan”. (Inayatun Nisa’, hal. 121)
Perhatian pendahulu kita rahimahumullah terhadap pendidikan keluarganya ternyata juga kita dapatkan dari ulama yang hidup di zaman kita ini, seperti Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi‘i Rahimahullahu Ta’ala. Dalam sehari beliau menyempatkan waktu untuk mengajari anak istrinya tentang perkara-perkara agama yang mereka butuhkan, hingga mereka mapan dalam ilmu dan dapat memberi faedah kepada saudara mereka sesama muslimah dalam majelis yang mereka adakan atau dari karya tulis yang mereka hasilkan. Demikian kisah ulama kita dengan keluarganya, lalu di mana tempat kita bila dibanding dengan mereka ?
Wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab.
Penulis : Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah
Sumber :http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=131
Like
Be the first to like this.
About sesungguhnya pacaran dan musik itu haram hukumnya ( www.jauhilahmusik.wordpress.com , www.pacaranituharam.wordpress.com )
pops_intansay@yahoo.co.id
View all posts by sesungguhnya pacaran dan musik itu haram hukumnya ( www.jauhilahmusik.wordpress.com , www.pacaranituharam.wordpress.com ) →
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.
← Tips Memilih Pasangan IdamanCARA BERTAUBAT DARI PERBUATAN ZINA →
Leave a Reply
Email (required) (Address never made public)
Name (required)
Website
Sabtu, 09 Juni 2012
Sakit I
Rencana cuti,seminggu dia training,seminggu ak yg training. Tadinya training yg ak ikuti diadakan dijakarta,tp krn kuota tdk mencukupi maka diadakan di batam. Finally siang ini aku ke batam.
Yg membuatku sedih krn dia minta sewa baby sitter selama ak pergi, aku yg bayar.terus terang tidak masalah krn mmg lg ada duit,yg menyakitkan selama seminggu dia training aku yg jagain 2 anak,dibayarpun tidak,keperluanku selama seminggu ini aku bayar sendiri, bayar ini itu,aku bayar sendir, belum lg klo dia pulang dari training hanya bisa mengomentari cara aku menjaga anak2.kamar berantakan lah,pakaian yg aku cuci caranya gmn lah. Subhahanallah sedangkan dia tau sendiri tinggal di apartment/hotel akses terbatas,nyuci baju ya di wastafel,belum lg kondisi perutku ug sedang hamil 5 bln, ketika siang harus ke mall dekat dr apartment utk mkn siang. Bayar makan,kerepotan membawa 2 anak balita yg aktif,plus perut buncit sungguh sungguh melelahkan. Tp sungguh tidak dihargai,tdk ada satupun yg kulakukan benar dimatanya.dibayarpun tidak kok. Tp mereka anak2ku kesehatan mereka no.1 yg harus kupastikan mereka fun selama cuti,makan 3x sehari,beli mainan yg mereka mau.that's it.
Belum lg sikapnya menanggapi pertanyaanku mengenai kegiatannya,makan siang dimana,bgm harinya seharian,ditanggapi dingin bahkan sering cuek dan tiba2 sengaja sibuk mengerjakan sesuatu.dimana hak ku sebagai istri yg sayang suami,aku hanya ingin seakan2 berada disisinya kok,bukan menginterogasi. Lagipula istri mana yg tdk resah klo selama seminggu sms dari suaminya pun tdk ada mengabarkan/menanyakan dia sedang apa,makan dmn dll.
Sampai pd akhir minggu kemarin akhirnya kulontarkan pernyataan,jika mmg ada seseorang yg bisa sempurna memenuhi semua yg kamu harapkan sebagai seorang istri dan ibu,mungkin sebaiknya dia memilih org itu saja.karena aku terlalu lelah 6 tahun hidup seperti ini.6 tahun bukannya makin mendekatkan kita tetapi malah membuat hubungan kita semakin jauh.
Yg membuatku sedih krn dia minta sewa baby sitter selama ak pergi, aku yg bayar.terus terang tidak masalah krn mmg lg ada duit,yg menyakitkan selama seminggu dia training aku yg jagain 2 anak,dibayarpun tidak,keperluanku selama seminggu ini aku bayar sendiri, bayar ini itu,aku bayar sendir, belum lg klo dia pulang dari training hanya bisa mengomentari cara aku menjaga anak2.kamar berantakan lah,pakaian yg aku cuci caranya gmn lah. Subhahanallah sedangkan dia tau sendiri tinggal di apartment/hotel akses terbatas,nyuci baju ya di wastafel,belum lg kondisi perutku ug sedang hamil 5 bln, ketika siang harus ke mall dekat dr apartment utk mkn siang. Bayar makan,kerepotan membawa 2 anak balita yg aktif,plus perut buncit sungguh sungguh melelahkan. Tp sungguh tidak dihargai,tdk ada satupun yg kulakukan benar dimatanya.dibayarpun tidak kok. Tp mereka anak2ku kesehatan mereka no.1 yg harus kupastikan mereka fun selama cuti,makan 3x sehari,beli mainan yg mereka mau.that's it.
Belum lg sikapnya menanggapi pertanyaanku mengenai kegiatannya,makan siang dimana,bgm harinya seharian,ditanggapi dingin bahkan sering cuek dan tiba2 sengaja sibuk mengerjakan sesuatu.dimana hak ku sebagai istri yg sayang suami,aku hanya ingin seakan2 berada disisinya kok,bukan menginterogasi. Lagipula istri mana yg tdk resah klo selama seminggu sms dari suaminya pun tdk ada mengabarkan/menanyakan dia sedang apa,makan dmn dll.
Sampai pd akhir minggu kemarin akhirnya kulontarkan pernyataan,jika mmg ada seseorang yg bisa sempurna memenuhi semua yg kamu harapkan sebagai seorang istri dan ibu,mungkin sebaiknya dia memilih org itu saja.karena aku terlalu lelah 6 tahun hidup seperti ini.6 tahun bukannya makin mendekatkan kita tetapi malah membuat hubungan kita semakin jauh.
Sabtu, 12 Mei 2012
Cara berpakaian bagi orang berbadsn besar
Kunci pakaian serasi adalah perhatian yang tepat pada proporsi. Semua orang pada dasarnya bisa tampil menarik sepanjang mengenali bentuk tubuh mereka — dan memilih padu-padan yang tepat.
Dengan begitu, meski tren yang beredar seakan-akan hanya tercipta bagi mereka yang bertubuh langsing, bukan berarti para wanita bertubuh besar tak bisa ikut bergaya. Dengan beberapa langkah mudah, Anda bisa menciptakan siluet tubuh yang lebih menarik.
1. Kenali bentuk tubuh
Pahami bentuk tubuh Anda. Setiap bentuk tubuh memiliki kecocokan masing-masing terhadap jenis pakaian. Apakah tubuh Anda berbentuk buah pir, oval, segitiga terbalik, atau lainnya? Mengetahui bentuk tubuh bisa memudahkan Anda ketika memilih pakaian terutama bawahan dan jaket.
2. Hindari busana longgar
Kesalahan paling umum wanita bertubuh besar adalah, mereka cenderung memilih pakaian longgar dan menyembunyikan bentuk tubuh. Mengenakan pakaian longgar seperti tenda justru membuat tubuh terlihat lebih besar. Pilih pakaian yang pas di tubuh tanpa terlihat terlalu sempit. Gunakan gaun yang memiliki potongan lekuk tubuh dan hindari gaun lurus atau menggelembung hanya membuat Anda terlihat semakin besar. Pilih gaun yang memiliki potongan di pinggang atau pinggul untuk memberi siluet melangsingkan.
3. Beri perhatian pada kelebihan Anda
Tunjukkan bagian yang menarik pada tubuh Anda. Leher, bahu, tangan atau kaki yang menjadi andalan tak ada salahnya diberi perhatian lebih. Memiliki tubuh besar bukan berarti Anda harus bersembunyi di balik kain yang longgar dan tidak berbentuk. Kenali bagian tubuh terbaik Anda dan jangan ragu untuk menampilkannya. Menggunakan pakaian yang menonjolkan kelebihan Anda akan menarik perhatian orang ke bagian tersebut. Namun jangan terlalu berlebihan dan terlalu terlihat mengumbar.
4. Modifikasi
Pakaian yang dibeli di toko belum tentu dapat membentuk tubuh Anda secara baik. Kunjungi penjahit langganan Anda untuk melakukan pengepasan. Dengan membuat pakaian Anda jatuh pas pada tubuh, tidak terlalu ketat atau longgar, Anda akan terlihat lebih menarik. Konsultasikan pada penjahit Anda atau lihat referensi mode. Jika memungkinkan, lalukan modifikasi dan tambahkan beberapa detail baru yang menarik pada pakaian Anda. Perubahan kecil ini akan berpengaruh besar jika dilakukan dengan tepat. Ingat kembali bentuk tubuh dan kelebihan tubuh Anda ketika akan melakukan modifikasi.
5. Warna & motif
Walau warna gelap seperti hitam bisa memberi kesan tubuh lebih langsing tapi hal tersebut bukan harga mati. Perhatikan warna kulit, rambut, dan mata ketika memilih warna pakaian yang sesuai untuk Anda. Jika ragu untuk mengenakan warna terang, kenakan pada satu bagian terlebih dahulu. Warna baju yang bisa membuat kulit Anda lebih cerah akan menambah kesan berbeda pada penampilan Anda. Jika ragu, selalu kombinasikan dengan warna gelap untuk memperoleh keseimbangan. Untuk yang senang dengan motif garis, hindari garis yang terlalu tebal dan horizontal. Motif ini berisiko membuat siluet terlihat lebih besar.
Motif yang terlalu besar atau terlalu banyak, kurang baik untuk wanita bertubuh besar. Gunakan motif kecil pada satu bagian, kombinasikan dengan warna gelap. Pelajari bagian mana yang tidak ingin Anda tonjolkan. Jangan mengenakan motif, terutama motif yang menarik perhatian pada bagian tersebut. Mengenakan motif besar dan banyak akan membuat siluet tubuh terlihat semakin besar. Untuk mewarnai penampilan, manfaatkan padu-padan aksesori, kalung, gelang, atau anting-anting yang sesuai dengan jenis pakaian. Jangan gunakan terlalu banyak aksesoris yang akan membuat Anda terlihat seperti ondel-ondel.
6. Jangan memaksakan diri
Selain hobi mengenakan pakaian longgar, sebagian pemilik tubuh besar juga sering terlihat memaksakan tubuhnya dengan pakaian yang lebih sempit. Akibatnya gumpalan-gumpalan lemak terlihat menyembul dari balik pakaian Anda. Tentu saja pemandangan tersebut kurang menyenangkan.
Cari pakaian yang pas namun tidak terlalu ketat membentuk tubuh. Bahan-bahan yang menempel tubuh seperti spandex atau lycra sebaiknya dihindari. Coba pakaian Anda sebelum membeli, pastikan tampilannya rapih membungkus tubuh tanpa mendorong lemak berlebih menonjol dari pakaian. Jika pada saat-saat spesial Anda perlu mengenakan pakaian yang agak ketat, sebaiknya gunakan bantuan korset untuk membantu membentuk tubuh. Memang awalnya tidak mudah mencari pakaian yang pas untuk tubuh, tapi lama-kelamaan setelah sering mencoba Anda akan mulai mengerti mana yang tepat untuk tubuh Anda.
7. Bermain dengan layer
Untuk menciptakan siluet tubuh lebih panjang, Anda bisa bermain dengan layer. Gunakan lapisan dalam misalnya kaus atau tank-top panjang yang tidak terlalu ketat, lalu padukan dengan lapisan luar misalnya jaket atau cardigan yang sedikit lebih pendek. Tank-top pendek atau blus pendek dipadu dengan cardigans sepinggul bisa membuat tubuh Anda terlihat lebih langsing. Pelajari bentuk tubuh Anda, jika ingin membentuk sedikit ilusi pinggang, kenakan ikat pinggang di luarnya. Jangan gunakan ikat pinggang terlalu ketat hingga mendorong lemak tubuh Anda muncul ke permukaan.
Penting diingat, jika akan menggunakan layer, hindari bahan-bahan tebal yang membuat siluet tubuh Anda terlihat lebih besar. Gunakan warna gelap untuk layer yang lebih panjang dan warna terang pada layer yang pendek untuk menciptakan siluet lebih ramping. Pastikan layer luar Anda pas pada tubuh dan tidak terlalu longgar.
Dressing when you pregnant
hFor the first three months or so, you'll probably be able to wear your regular work wardrobe. You may need to leave the top button undone on your skirts and pants, but you can camouflage that by leaving your tops untucked.
Try this trick: Loop a rubber band through the buttonhole and then wrap it around the button. This will provide that crucial extra inch or two of breathing room. There's also a handy accessory known as the belly band, a stretchy band that holds your pants up so you can leave them unzipped.
Then you'll enter the Awkward Zone: You may not look pregnant yet, but you will look like you've put on some weight — yet most true maternity clothes will still be too big. You may be able to get through this phase by buying a few regular skirts and pants with elastic or drawstring waistbands in a size larger than you usually wear or by picking up a couple of pairs of trendy low-rise pants that sit below your belly And don't forget those stretchy yoga pants, which can look dressy enough for work if they're made from a reasonably thick ra
Sweaters, long jackets and cardigans, tunic tops, loose shirts, and leggings also work well during this transition time, gracefully concealing your growing belly without accentuating it. And we can't sing the praises loudly enough of nonbinding fabrics like jersey, knits, cotton, and viscose — basically anything with stretch.
If you haven't yet shared your news with your office mates, this kind of creative dressing will buy you a little more time. These transitional clothes will also help you get through the post-baby weight-loss period.
Once the word of your pregnancy is out, you might as well make life easier by dressing the part. "If your job calls for more formal business attire, I recommend five key pieces in similar fabrics and complimentary shades: pants, a skirt, a jacket, a dress, and a tunic top," says fashion designer Liz Lange.
Combine those five pieces for at least six different looks — mix the tunic with the skirt or pants; the jacket with the dress, pants, or skirt; or wear the dress on its own. You can get a few more outfits out of the mix by adding roomy non-maternity sweaters and tops. "You might even be surprised to find that paring down your wardrobe during pregnancy makes you realize how little you really need later on," Lange adds.
The more you can borrow from friends who blazed the baby trail before you, the better. So be sure to hit up your friends, relatives, and co-workers for their maternity hand-me-downs. Also, don't forget local consignment shops and online auction sites where women may try to recoup some of the cost of their pricey maternity threads by reselling them.
While you're updating your wardrobe for pregnancy, don't forget about your feet. Many women's feet expand a half size or more during pregnancy. Also, your balance may be off as your center of gravity shifts with your expanding waistline. You may need to sideline your heels for a few months, trading them in for a comfortable pair of flats or shoes with low, stable heels.
Try this trick: Loop a rubber band through the buttonhole and then wrap it around the button. This will provide that crucial extra inch or two of breathing room. There's also a handy accessory known as the belly band, a stretchy band that holds your pants up so you can leave them unzipped.
Then you'll enter the Awkward Zone: You may not look pregnant yet, but you will look like you've put on some weight — yet most true maternity clothes will still be too big. You may be able to get through this phase by buying a few regular skirts and pants with elastic or drawstring waistbands in a size larger than you usually wear or by picking up a couple of pairs of trendy low-rise pants that sit below your belly And don't forget those stretchy yoga pants, which can look dressy enough for work if they're made from a reasonably thick ra
Sweaters, long jackets and cardigans, tunic tops, loose shirts, and leggings also work well during this transition time, gracefully concealing your growing belly without accentuating it. And we can't sing the praises loudly enough of nonbinding fabrics like jersey, knits, cotton, and viscose — basically anything with stretch.
If you haven't yet shared your news with your office mates, this kind of creative dressing will buy you a little more time. These transitional clothes will also help you get through the post-baby weight-loss period.
Once the word of your pregnancy is out, you might as well make life easier by dressing the part. "If your job calls for more formal business attire, I recommend five key pieces in similar fabrics and complimentary shades: pants, a skirt, a jacket, a dress, and a tunic top," says fashion designer Liz Lange.
Combine those five pieces for at least six different looks — mix the tunic with the skirt or pants; the jacket with the dress, pants, or skirt; or wear the dress on its own. You can get a few more outfits out of the mix by adding roomy non-maternity sweaters and tops. "You might even be surprised to find that paring down your wardrobe during pregnancy makes you realize how little you really need later on," Lange adds.
The more you can borrow from friends who blazed the baby trail before you, the better. So be sure to hit up your friends, relatives, and co-workers for their maternity hand-me-downs. Also, don't forget local consignment shops and online auction sites where women may try to recoup some of the cost of their pricey maternity threads by reselling them.
While you're updating your wardrobe for pregnancy, don't forget about your feet. Many women's feet expand a half size or more during pregnancy. Also, your balance may be off as your center of gravity shifts with your expanding waistline. You may need to sideline your heels for a few months, trading them in for a comfortable pair of flats or shoes with low, stable heels.
Minggu, 06 Mei 2012
DZIKIR DAN DO’A YANG DIANJURKAN UNTUK IBU HAMIL & HENDAK MELAHIRKAN
Masa-masa kehamilan adalah masa yang cukup menegangkan bagi calon ibu baru. Ada rasa takut, khawatir, resah, meski bercampur dengan bahagia karena menanti sang buah hati. Terlebih lagi setelah memasuki masa-masa persalinan. Ketegangan dan kekhawatiran biasanya semakin meningkat.
Karena itulah, Islam memberikan tuntunan bagi para ibu hamil untuk senantiasa berdzikir dan berdo’a, agar segala gundah dan resah terhapus, digantikan oleh rasa tenang dan bahagia.
Allah Ta’ala berfirman:
“orang-orang yang beriman, dan hati mereka tenang dengan mengingat Allah. Ingatlah, dengan mengingat Allah maka hati akan menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d 28)
Dzikir yang paling dianjurkan dan paling utama adalah memperbanyak membaca Al-Qur’an. Karena di dalamnya terdapat banyak sekali kebaikan. Juga obat untuk segala macam penyakit.
Dianjurkan pula bagi ibu hamil untuk banyak membaca dzikir pagi petang yang telah diajarkan menurut sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Hindarkan diri Anda untuk membaca dzikir-dzikir yang tidak jelas riwayatnya, apalagi jika do’a dan dzikir itu tidak sesuai dengan yang diajarkan oleh Rosulullah.
Beberapa dzikir dan do’a yang dianjurkan untuk dibaca:
1. Surat Al-Fatihah. Memiliki keutamaan sebagai ruqyah, untuk mengobati segala penyakit dan kesusahan. Boleh dibaca satu kali, tiga kali, tujuh kali, atau lebih.
2. Membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas. Masing-masing dibaca 3 kali di pagi hari, sore hari, dan menjelang tidur.
3. Membaca ayat Kursi, yakni ayat 255 pada surat Al-Baqarah. Baik dibaca satu kali di pagi dan sore hari, menjelang tidur, dan saat dzikir setelah shalat fardhu.
4. Membaca 2 ayat terakhir dari surat Al-Baqarah, yaitu ayat 285 dan 286. Baik dibaca satu kali di sore hari atau menjelang tidur. Membaca ayat ini insya Allah akan menjaga dan melindungi Anda dari segala gangguan.
5. Membaca 5 ayat pertama dari surat Al-Baqarah.
6. Banyak membaca kalimat, “Laa haula walaa quwwata illaa billaah” yang artinya, “Tiada daya dan kekuatan melainkan karena pertolongan Allah.”
7. Memperbanyak istighfar. Yaitu ucapan, “Astaghfirullaah…”
Dan lain sebagainya. Anda dapat membeli buku dzikir pagi petang yang sesuai dengan tuntunan sunnah, atau terkhususkan buku Wirid Ibu Hamil yang memuat banyak do’a dan dzikir dari hadits-hadits yang shahih. Wallahu a’lam.
Karena itulah, Islam memberikan tuntunan bagi para ibu hamil untuk senantiasa berdzikir dan berdo’a, agar segala gundah dan resah terhapus, digantikan oleh rasa tenang dan bahagia.
Allah Ta’ala berfirman:
“orang-orang yang beriman, dan hati mereka tenang dengan mengingat Allah. Ingatlah, dengan mengingat Allah maka hati akan menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d 28)
Dzikir yang paling dianjurkan dan paling utama adalah memperbanyak membaca Al-Qur’an. Karena di dalamnya terdapat banyak sekali kebaikan. Juga obat untuk segala macam penyakit.
Dianjurkan pula bagi ibu hamil untuk banyak membaca dzikir pagi petang yang telah diajarkan menurut sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Hindarkan diri Anda untuk membaca dzikir-dzikir yang tidak jelas riwayatnya, apalagi jika do’a dan dzikir itu tidak sesuai dengan yang diajarkan oleh Rosulullah.
Beberapa dzikir dan do’a yang dianjurkan untuk dibaca:
1. Surat Al-Fatihah. Memiliki keutamaan sebagai ruqyah, untuk mengobati segala penyakit dan kesusahan. Boleh dibaca satu kali, tiga kali, tujuh kali, atau lebih.
2. Membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas. Masing-masing dibaca 3 kali di pagi hari, sore hari, dan menjelang tidur.
3. Membaca ayat Kursi, yakni ayat 255 pada surat Al-Baqarah. Baik dibaca satu kali di pagi dan sore hari, menjelang tidur, dan saat dzikir setelah shalat fardhu.
4. Membaca 2 ayat terakhir dari surat Al-Baqarah, yaitu ayat 285 dan 286. Baik dibaca satu kali di sore hari atau menjelang tidur. Membaca ayat ini insya Allah akan menjaga dan melindungi Anda dari segala gangguan.
5. Membaca 5 ayat pertama dari surat Al-Baqarah.
6. Banyak membaca kalimat, “Laa haula walaa quwwata illaa billaah” yang artinya, “Tiada daya dan kekuatan melainkan karena pertolongan Allah.”
7. Memperbanyak istighfar. Yaitu ucapan, “Astaghfirullaah…”
Dan lain sebagainya. Anda dapat membeli buku dzikir pagi petang yang sesuai dengan tuntunan sunnah, atau terkhususkan buku Wirid Ibu Hamil yang memuat banyak do’a dan dzikir dari hadits-hadits yang shahih. Wallahu a’lam.
Langganan:
Postingan (Atom)

